This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 14 Maret 2019

c. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Rasulullah saw. ketika berdakwah di Makkah

Kesulitan-kesulitan yang Dihadapi Nabi Muhammad ﷺ di Makkah


banyak kendala yang dialami oleh setiap penda'wah terutama oleh Rosulollah SAW,dengan beberapa ujianya beliau di uji dengan ujian yang begitu dahsyat saking dahsyat,beliau sering di timpukin oleh kotor dan masih banyak lainya..

Semenjak Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya melakukan dakwah secara terang-terangan, semakin banyak penduduk Mekah yang memeluk agama Islam. Namun, banyak juga penduduk Mekah yang tetap membenci beliau. Mereka tidak menginginkan adin hewan dan masih banyak lainya anya agama baru dan kepercayaan baru yang tumbuh subur di kota Mekah, yang hanya menimbulkan saingan kepercayaan lama yang secara turun-temurun mereka percayai. Karena itu, mereka terus berusaha menghalangi kegiatan dakwahnya dan para pengikutnya, antara lain dengan cara:

1. Penganiayaan dan Penyiksaan

Kafir Quraisy melakukan penganiayaan, baik kepada beliau sendiri maupun para sahabatnya. Setidaknya ada dua tujuan utama dari penganiayaan yang mereka lakukan, yaitu: pertama,menghambat dakwah Islam. Mereka berharap bahwa dengan melakukan penganiayaan, Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya tidak akan lagi menyebarkan ajaran agama Islam di Mekah; kedua, agar beliau dan para pengikutnya meninggalkan agama Islam dan kembali kepada kepercayaan lama yang dianut oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun.

Salah satu penganiayaan kepada Nabi Muhammad saw. dilakukan oleh Abu Jahal, ketika beliau sedang melakukan salat di dekat Kabah, waktu itu dia membawa batu besar yang hendak dijatuhkan ke kepala beliau pada saat bersujud. Namun, pada saat bersamaan tiba-tiba Abu Jahal melihat seekor unta besar menerjang ke arahnya. Abu Jahal akhirnya lari ketakutan dan usaha pembunuhan itu pun gagal. Secara perlahan tetapi pasti, dakwah secara terang-terangan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. mendapat sambutan hangat dari penduduk Mekah. Pengikut Islam pada saat itu berjumlah sekitar 182 orang. Kebanyakan di antara para pengikut pertama Islam adalah orang-orang lemah, miskin dan para budak. Dalam pandangan Islam, semua manusia sama derajatnya di sisi Allah kecuali karena takwanya.

Banyaknya orang lemah dan miskin yang masuk Islam, menjadikan kaum kafir Quraisy sering melakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap mereka, dengan tujuan untuk menakut-nakuti dan mencegah berkembangnya agama Islam secara lebih luas. Di antara para budak yang disiksa adalah Bilal bin Rabah. Bilal adalah budak Umayyah bin Khalaf. Sebagai tokoh kaum Quraisy Mekah yang terkemuka, Umayyah merasa malu kalau salah seorang budaknya memeluk agama Islam. Oleh karena itu, dia menyuruh Bilal untuk meninggalkan agama barunya. Namun Bilal menolak perintah tersebut, dan dia tetap gigih memeluk agama Islam.

Sikap Bilal yang demikian menyebabkan Umayyah sangat marah, dan langsung melakukan penyiksaan kepada Bilal dengan siksaan yang amat keji. Bilal diikat dengan tali dan diseret di sepanjang jalan. Tidak berhenti sampai di situ, tubuh Bilal juga dihimpit dengan batu besar dan dijemur di terik matahari. Bilal dipaksa untuk meninggalkan agama Islam dan diperintah untuk kembali menyembah berhala. Namun, Bilal menolaknya. Pada saat Bilal sudah kritis, datanglah Abu Bakar dan menebus dengan uang serta membebaskan Bilal dari siksaan orang-orang kafir Quraisy. Bilal inilah yang di kemudian hari menjadi mu'azin pertama dalam Islam.

Selain Bilal bin Rabah, sahabat Nabi saw. lainnya yang mendapat siksaan dari orang kafir Quraisy adalah Sumayyah, ibu Ammar bin Yasir beserta seluruh keluarganya. Mereka disiksa oleh majikannya sendiri yaitu Abu Jahal. Sumayyah disiksa dan akhirnya dibunuh oleh Abu Jahal. Sedangkan Ammar, dadanya dihimpit dengan batu yang sangat panas dan sebagian tubuhnya dibenamkan ke dalam pasir yang panas pula. Keluarganya yang lain pun disiksa dengan siksaan yang sangat menyakitkan.

Selain peristiwa di atas, masih banyak lagi penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad saw. Namun, usaha tersebut tetap saja gagal. Setelah itu, mereka menempuh jalan yang lebih halus untuk membujuk Nabi saw..

Satu hal yang patut dicatat dalam hal ini adalah bahwa selama berdakwah di Mekah, paman beliau Abu Thalib sangat berperan dalam menjaga dan melindungi beliau dari tekanan, gangguan, dan penganiayaan kaum kafir Quraisy. Abu Thalib sering mengundang keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib untuk senantiasa menjaga dan melindunginya dari orang-orang Quraisy.

2. Bujukan dan Rayuan

Tidak puas dengan penganiayaan, orang-orang kafir Quraisy melakukan cara-cara diplomatis untuk menghentikan dakwah beliau, yaitu membujuk dan merayu Abu Thalib agar menekan dan menyuruh Nabi Muhammad saw. menghentikan dakwahnya. Di samping itu, mereka juga melakukan cara-cara barter atau menukar beliau dengan anak muda tampan bernama Amrah bin Walid. Mereka menginginkan Abu Thalib menyerahkan beliau untuk dibunuh, dan menyerahkan Amrah sebagai penggantinya. Secara spontan Abu Thalib sangat marah dengan tawaran tersebut dan berkata, "Kamu serahkan anakmu untuk aku pelihara, sedangkan anakku kalian bunuh begitu saja. Pergilah dari sini, aku tidak sudi menyerahkannya." Peristiwa ini semakin menumbuhkan rasa sayang Abu Thalib kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah berkata kepada pamannya, Abu Thalib, "Wahai pamanku, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku berhenti berdakwah, pasti aku tidak akan menghentikan dakwahku sampai Allah memberiku kemenangan atau aku binasa dalam berjuang."

3. Harta, Tahta, dan Wanita

Cara halus yang dilakukan kafir Quraisy adalah dengan mengutus Utbah bin Rabi`ah agar berbicara secara baik-baik kepada Nabi Muhammad saw. Utbah bin Rabi`ah berkata, "Wahai Muhammad, bila kamu menginginkan harta kekayaan, saya sanggup menyediakannya untukmu. Bila kamu menginginkan pangkat yang tinggi, saya sanggup mengangkatmu menjadi seorang raja, dan bila kamu menginginkan seorang wanita cantik, saya sanggup mencarikannya, dengan syarat kamu mau menghentikan dakwahmu." Namun, dengan tegas tapi ramah dan halus, beliau tetap menolak tawaran-tawaran tersebut.

4. Melakukan Penyembahan Secara Bergantian

Cara lain yang dipergunakan kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Islam adalah menawarkan melakukan penyembahan secara bergantian. Pihak kafir Quraisy menawarkan agar Muhammad menyembah tuhan-tuhan mereka selama setahun, sebaliknya mereka akan menyembah Tuhan Muhammad selama setahun. Kafir Quraisy meminta Nabi Muhammad saw. agar beriman kepada berhala-berhala mereka, sebaliknya mereka akan beriman kepada Tuhan Muhammad.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. bertawaf di Ka`bah, beliau ditemui oleh beberapa pemuka Quraisy (Al-Aswad bin Al-Muthalib, Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Al-Ash bin Wail), kemudian mereka berkata, "Wahai Muhammad marilah kita bersepakat kami akan menyembah apa yang kamu sembah, dan sebaliknya kamu harus menyembah apa yang kami sembah, dengan cara itu berarti kita telah melakukan kerja sama yang baik. Dengan kejadian ini turunlah ayat: "Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS Al-Kafiran: 1-6).

5. Pemboikotan dan Embargo Ekonomi

Siksaan, penganiayaan, caci-maki, dan berbagai cara apa pun yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy untuk menghalangi dakwah Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya, tidak menyebabkan beliau dan para sahabat jera dan berhenti untuk menyebarkan ajaran Islam. Sebaliknya, beliau semakin gigih dalam berjuang menegakkan ajaran Islam. Semua bentuk rintangan tersebut dihadapi dengan sabar dan tawakal serta memohon pertolongan hanya kepada Allah semata. Mereka menganggap semua yang dilakukan kafir Quraisy adalah cobaan dan ujian dari Yang Mahakuasa. Sebab, Allah swt. tidak akan memberi cobaan dan ujian kepada para hamba-Nya kecuali mereka bisa mencari jalan keluar terbaik.

Setelah berbagai cara yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekah untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. tidak membuahkan hasil, maka mereka melakukan sangsi ekonomi terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib serta umat Islam di Mekah. Butir-butir sangsi ekonomi diletakkan di dinding Ka`bah yang bunyinya sebagai berikut:
  • Tidak boleh melakukan jual beli dengan pihak muslim.
  • Tidak boleh menikah dan menerima permintaan nikah mereka. 
  • Tidak boleh menjenguk, menemani, atau masuk rumah mereka.
  • Tidak boleh berbicara atau bergaul dengan mereka
  • Tidak boleh menerima permintaan damai mereka atau belas kasih kepada mereka.
Piagam pemboikotan tersebut ditulis dan ditempelkan pada salah satu sudut Ka`bah sebagai peringatan bagi penduduk Mekah. Boikot ini berlangsung selama tiga tahun, yaitu mulai bulan Muharram tahun ketujuh sampai bulan Muharram tahun kesepuluh kenabian. Menurut kafir Quraisy, dengan strategi politik seperti ini, diharapkan akan membuahkan hasil yang maksimal dan lebih efektif dibandingkaan melakukan politik kekerasan dan penyiksaan, walaupun kekerasan dan penyiksaan itu tidak mereka hentikan. Sangsi ekonomi dan blokade-blokade yang dilakukan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin, terutama Bani Hasyim dan Bani Muthalib sudah berjalan selama dua atau tiga tahun, dengan harapan bahwa Nabi Muhammad saw. akan ditinggalkan oleh umatnya sendiri, dan pada akhirnya nanti dia dan ajarannya tidak membahayakan kepercayaan lama meraka. Namun, harapan dan impian kaum kafir Quraisy ternyata tidak berhasil. Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya tetap sabar dan tetap menjalankan dakwah Islam.

Penderitaan yang dialami umat Islam selama pemboikotan memang sangat memilukan, padahal mereka adalah masih ada hubungan keluarga, seperti saudara, ipar, dan sepupu. Belum ada satu penduduk pun yang bersimpati kepada kaum Muslimin dengan membawakan makanan ke celah-celah gunung. Kemudian datanglah Hisyam ibn 'Amr dari kalangan Quraisy yang bersimpati kepada Muslimin. Pada waktu tengah malam, ia membawa unta yang sudah dimuati makanan dan gandum. Ketika ia sampai di celah gunung, dilepaskan tali untanya lalu dipacunya agar masuk ke tempat mereka dalam celah itu.

Hisyam ibn Amr sangat kesal melihat saudara-saudaranya diisolir di pegunungan, lalu ia pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah dari Bani Makhzum, ibu Zuhair adalah Atikah binti Abdul Muthalib dari Bani Hasyim. Hisyam berkata kepada Zuhair, "Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan para wanita, padahal, keluarga ibumu tidak boleh berhubungan dengan orang, berjual beli, tidak boleh saling mengawinkan. Aku bersumpah, kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibu, keluarga Abul Hakam ibn Hisyam, lalu aku diajak seperti mengajak engkau, tentu akan kutolak." Kemudian, keduanya sepakat untuk membatalkan piagam pemboikotan itu. Keduanya melakukan komunikasi dengan pihak-pihak lain untuk minta dukungan, dan dukungan diberikan oleh Mut'im ibn 'Adi dari Bani Naufal, Abul Bakhtari ibn Hisyam dan Zam'a ibn Aswad (keduanya dari Bani Asad).

Keesokan harinya, setelah tujuh kali mengelilingi Ka`bah, Zuhair berseru kepada orang banyak, "Wahai penduduk Mekah! Kamu enak-enakan makan dan berpakaian padahal Bani Hasyim dalam keadaan tersiksa tidak dapat berhubungan dagang! Demi Allah saya tidak akan duduk sebelum piagam .

pemboikotan ini dirobek!" Spontan saja ketika Abu Jahal mendengar ucapan tersebut berkata, "Bohong, piagam itu tidak akan kita robek!" Saat itu juga Zam'a, Abul Bakhtari, Mut'im dan 'Amr ibn Hisyam mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair. Karena tidak mendapat dukungan, Abu Jahal segera pergi. Ketika Mut'im hendak merobek piagam pemboikotan, dilihatnya sudah mulai dimakan rayap, kecuali pada bagian pembukaannya yang berbunyi: "Atas nama-Mu ya Allah..."

Sesudah piagam dirobek oleh Mut'im, Nabi Muhammad saw. dan umat Islam keluar dari celah-celah pegunungan. Beliau menyeru dan berdakwah lagi kepada penduduk Mekah dan para kabilah yang datang pada bulan-bulan suci untuk berziarah ke Mekah. Pada saat ini, ajaran Islam telah menyebar ke seluruh kabilah Arab, karena memang telah banyak di antara mereka yang memeluk Islam, akan tetapi tetap saja kaum kafir Quraisy mencemooh, menganiaya, dan menyiksa khususnya kepada pemeluk Islam yang lemah.

Perasaan senang yang dirasakan umat Islam atas berakhirnya pemboikotan orang-orang Quraisy tidak berlangsung lama. Enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan, tepatnya pada bulan Rajab tahun ke-10 kenabian Abu Thalib wafat, dan beberapa hari sesudahnya wafat pula istri Nabi Muhammad saw. yaitu Siti Khadijah. Beliau sangat sedih dengan wafatnya kedua orang tersebut, karena Abu Thalib ibarat tempat bersandar beliau dari gangguan kafir Quraisy dan Siti Khadijah adalah istri yang selalu memberi dukungan moril maupun materiil atas kegiatan dakwah beliau. Tahun ini kemudian disebut sebagai tahun kesedihan (Amul Huzni). Namun, kesedihan tersebut tidak menghalangi berlangsungnya dakwah Islam, beliau tetap dan terus berdakwah dengan mengharap rida dan pertolongan Allah swt. Setelah meninggalnya Khadijah (bulan Syawwal), Nabi Muhammad saw. menikah dengan Saudah binti Zam`ah, bekas istri Sakran ibn Amr yang masuk Islam dan ikut berhijrah ke Abessinia dan wafat di sana. Pada bulan yang sama, beliau mengikat Aisyah binti Abu Bakar dalam akad pernikahan, dan baru berkumpul setelah hijrah ke Madinah.

Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah, kaum kafir Quraisy semakin leluasa mengancam dan menganiaya Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya. Salah satu contoh perlakuan semena-mena kepada Nabi Muhammad saw. antara lain adalah ketika seorang Quraisy mencegatnya di tengah jalan lalu menyiramkan tanah ke atas kepalanya. Nabi Muhammad saw. pulang ke rumah dengan tanah yang masih di atas kepala. Fatimah putrinya, sambil menangis, datang membersihkan tanah yang ada di kepala beliau. Melihat Fatimah menangis, beliau berkata, "Jangan menangis anakku, Tuhan akan melindungi ayahmu."

KERASULAN NABI MUHAMMAD.

KERASULAN NABI MUHAMMAD ..

Sebelum kita beranjak pada selanjutnya maka  kita harus tau bagaimana Nabi MUHAMMAD diangkat menjadi rosul...
A.       Kerasulan Nabi Muhammad SAW
Di usia 14 pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khatijah, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri dan berkhalwat di goa Hira, yaitu goa yang berada di bukit Nur (jabal Nur) yang terletak di dekat Makkah. Berkhalwat ini dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan khusuk, kadang sampai beberapa hari baru pulang jika bekal sudah habis. Di sanalah, beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam. Pada malam bertepatan dengan malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika beliau sedang bertafakur di dalam goa Hira dan telah berusia empat puluh tahun, beliau didatangi malaikat Jibril yang seraya berkata kepadanya: “Bacalah!”, beliau menjawab: “Saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulangi perintah ini untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Dan pada yang ketiga kalinya, Jibril berkata kepadanya Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah;  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah;Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam;  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al ‘Alaq : 1 – 5)

Setelah itu, Jibrilpun meninggalkannya, dan Rasulullah sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’. Akhirnya beliau pulang ke rumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar sambil berkata: “Selimuti saya!, selimuti saya!”, maka Khadijah pun menyelimutinya, sehingga rasa takutnya sirna. Lalu memberitahu Khadijah tentang apa yang telah diperolehnya dan berkata: “Sungguh saya khawatir terhadap diriku”. Khadijah menanggapinya dan menenangkan serta meyakinkan Nabi Muhammad SAW: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Dia tidak akan merendahkan dirimu untuk selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan tali persaudaraan, menanggung beban kesusahan orang lain, memberi orang yang tak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran”. Setelah tenang Siti Khatijah mengajak Nabi Muhammad SAW untuk menemui saudaranya Waraqah bin Naufal. Di depan Waraqah Nabi Muhammad SAW menceriterakan semua yang terjadi, kemudian Waraqah membuka kitab Taurat dan Injil serta berkata “demi Tuhan, yang datang itu adalah Malaikat Jibril yang pernah datang pada Nabi Musa, baik-baiklah menjaga diri, tabahkan hatimu wahai Muhammad, kelak engkau akan diangkat menjadi Rasul, jangan takut, tapi gembiralah menerima wahyu itu”.
Nabi Muhammad SAW telah mendapat wahyu yang pertama dari Allah SWT dan telah mendapat nasehat dari Waraqah bin Naufal. Beberapa malam Nabi Muhammad SAW telah siap menerima wahyu kembali, tetapi wahyu tersebut tidak kunjung datang. Pada malam ke-40 barulah wahyu kedua turun, waktu itu Nabi sedang berjalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba mendengar suara : “ya Muhammad, engkau benar utusan Allah”. Nabi merasa takut mendengar suara itu, beliau segera kembali ke rumah menyuruh Siti Khatijah menyelimutinya, suara tadi terdengar lagi dengan jelas dan semakin dekat Jibril mendatanginya sambil duduk di atas kursi antara bumi dan langit, lalu turunlah ayat Artinya : “ Hai orang yang berkemul (berselimut);  Bangunlah, lalu berilah peringatan!; Dan Tuhanmu agungkanlah!;   Dan pakaianmu bersihkanlah;  Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS. Al Mudatsir : 1 – 5).
Mulai saat inilah Muhammad telah diangkat oleh Allah SWT menjadi Rasul. Tugas baru telah datang, yaitu menyebarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia, setelah itu wahyu pun turun terus-menerus dan berkelanjutan.Nabi memulai dakwahnya, Khadijah masuk Islam dan bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian suaminya yang mulia. Sehingga, ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Kemudian, sebagai balas budi pada pamannya, Abu Thalib yang mengasuh dan menjaganya sejak kepergian ibunda dan kakeknya, Rasulullah memilih Ali dari sekian banyak putranya itu, untuk dididik di sisinya dan ditanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Alipun terbuka dan akhirnya masuk Islam. Setelah itu, barulah Zaid bin Haritsah, seorang budak yang telah dimerdekakan oleh Khadijah menyusul masuk Islam. Rasulullah juga bercerita kepada teman akrabnya, Abu Bakar, maka iapun beriman dan membenarkannya, tanpa ada keraguan kemudian Abu Bakar mengajak teman seperdagangannya mereka menyambut dengan baik, di antar mereka yang kemudian masuk Islam adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqas, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin Auf.
Selanjutnya, Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi (sir) yang beliau lakukan selama tiga tahun. Dikatakan secara sembunyi-sembunyi disini, mengingat tempat para sahabat, pengikutnya, dan orang-orang yang mereka ajak masuk Islam tersebut bersifat sangat rahasia. Ketika itu Nabi Muhammad SAW mendapat pengikut sekitar 30 orang, mereka mendapat sebutan “Assabiqunal Awwalu” artinya orang yang pertama kali masuk Islam. Sudah banyak yang beriman kepada Rasulullah, namun mereka masih menyembunyikan keIslaman mereka. Karena jika satu saja urusan mereka terungkap, maka ia akan menghadapi berbagai siksaan keras dari kaum kafir Quraisy hingga ia murtad (keluar) dari agama Islam.

3.2 Mengidentifikasi substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. periode Makkah

.<<<<...!!!......!!!!.....!!!!...!!!>>>>
SIRAH NABAWIYAH
3.2 Mengidentifikasi substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. periode Makkah

Abdul Amar dari Bani Zuhrah
Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris
Utsman bin Affan
Zubair bin Awam
Sa’ad bin Abu Waqqas
Thalhah bin Ubaidillah
Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surah 26: 214-216.
Ajaran Islam Periode Mekah
Faktor-faktor yang menorong hijrahnya Nabi SAW
Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekah
Mereka menyatakan bahwa :
Mereka sangat khawatir jika Muhammad dan pengikutnya telah berkuasa di Yatsrib. Pasti Muhammad akan menyerang kafilah-kafilah dagang Quraisy yang pulang pergi ke Syam. Hal itu akan mengakibatkan kerugian bagi perniagaan mereka.
Membunuh Nabi saw sebelum beliau ikut pindah ke Yatsrib. Dengan cara setiap suku Quraisy mengirimkan seorang pemuda tangguh sehingga apabila Rasulullah SAW terbunuh, keluarganya tidak akan mampu membela diri di hadapan seluruh suku Quraisy, kemudian mengepung rumah Nabi SAW dan akan membunuhnya di saat fajar, yakni ketika Rasulullah SAW akan melaksanakan sholat Subuh.
STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH
SUBSTANSI DAN STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW
Hikmah Sejarah Dakwah Rasulullah SAW. Periode MadinahMengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun
Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara kota Mekah.
Muhamad diangkat Allah SWT, sebagai nabi atau rasul-Nya ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali yakni Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq, 96: 1-5. Turunnya ayat Al-Qur’an pertama tersebut, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an.
Menurut sebagian ulama, setelah turun wahyu pertama (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5) turun pula Surah Al-Mudassir: 1-7, yang berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam kepada umat manusia.
Setelah itu, tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Mekah (periode Mekah) selama 13 tahun (610-622 M), secara berangsur-angsur telah diturunkan kepada beliau, wahyu berupa Al-Qur’an sebanyak 4726 ayat, yang meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah dinamakan Surah Makkiyyah.
Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.
2. Rencana pembunuhan Nabi saw oleh kaum Quraisy yang hasil
kesepakatannya diputuskan oleh pemuka-pemuka Quraisy di Darun
Nadwah.
Akhir Periode Dakwah Rasulullah Di Kota Mekah
Orang-orang yang masuk Islam, pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang namanya sudah disebutkan di samping, disebut Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam generasi awal).
Substansi dan strategi dakwah Raslullah SAW. Periode MadinahPada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil).
Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berdakwah ajaran Islam sehingga ternyata beberapa orang kawan dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah
۞
Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama, moral dan hukum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MAKKAH
Dengan berpindahnya Nabi saw dari Mekkah maka berakhirlah periode pertama perjalanan dakwah beliau di kota Mekkah. Beliau berjuang antara hidup dan mati menyerukan agama Islam di tengah masyarakat Mekkah dengan jihad kesabaran, harta benda, jiwa dan raga.
Sebelum memasuki Yatsrib, Nabi saw singgah di Quba selama 4 hari beristirahat, Nabi mendirikan sebuah masjid quba dan masjid pertama dalam sejarah Islam. Tepat hari Jumat 12 Rabiul awal tahun 1 hijrah bertepatan 24 September 6 M, Nabi saw mengadakan shalat Jum'at yang pertama kali dalam sejarah Islam dan Beliau pun berkhotbah di hadapan muslimin Muhajirin dan Anshar
Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul terdahulu, seperti Nabi Adam A.S. Mereka umumnya beragama watsani atau agama penyembah berhala. Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah (Baitullah = rumah Allah SWT). Di antara berhala-berhala yang termahsyur bernama: Ma’abi, Hubai, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manar. Selain itu ada pula sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum Sabi’in.
1. Ada tanda-tanda baik pada perkembangan Islam di Yatsrib
Peristiwa hijrah ini amat penting artinya bagi Islam dan kaum muslim karena hijrahnya Nabi SAW dari Mekah ke Madinah dijadikan sebagai awal permulaan tahun Hijriyah. Dengan hijrahnya kaum muslim, terbukalah kesempatan bagi Nabi SAW untuk mengatur strategi membentuk masyarakat muslim yang bebas dari ancaman dan tekanan. Beberapa strategi dalam hal tersebut adalah mengadakan perjanjian saling membantu antara kaum muslim dengan kaum nonmuslim dan membangun kerja sama, baik dibidang poitik, ekonomi, sosial, serta dasar-dasar daulah Islamiyah. Dakwah Rasulullah periode Madinah dapat mewujudkan masyarakat muslim di Madinah yang adil dan makmur sehingga menjadi prototipe masyarakat ideal atau yang sering disebut masyarakat madani. Beliau juga turut berjuang dalam memelihara dan mempertahankan masyarakat yang dibinyanya itu dari segala macam tantangan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar.
Hijrah Nabi Muhammad SAW. Ke Yastrib (Madinah)
Rencana-rencana tersebut diketahui oleh Nabi saw dan para pemuda Qurasy terkacoh. Karena yang tidur adalah Ali bin Abi Thalib bukan Rsulullah SAW. Rasulullah SAW sudah berangkat lebih awal dan sudah mengetahu kejahatan itu sebelum para pemuda Quraisy datang. Mereka mengejar dan menjelajahi seluruh kota untuk mencari Nabi saw tetapi hasilnya nihil. Kemudian Nabi bersama pengikutnya melanjutkan perjalanannya menelusuri pantai laut merah
Pada tahun 621 M telah datang 13 orang penduduk Yatsrib menemui Nabi Muhammad SAW di bukit Akabah.
Pada tahun berikutnya, 622 M datang lagi sebanyak 73 orang Yatsrib ke Mekkah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Saat itu mereka tampaknya datang untuk melakukan haji, tetapi sesungguhnya kedatangan mereka adalah untuk menjumpai rasulullah SAW dan mengundang mereka agar pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela dan mempertahankan serta melindungi Rasulullah besert para pengikut dan keluarganya seperti melindungi keluarga mereka sendiri. Perjanjian ini disebut Perjanjian Aqabah II. Akhirnya, Rasululah SAW menyuruhlah sahabat-sahabat Nabi pindah bersama.
Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul

link silabus ski